The Altar, Ps. Jeffrey Rachmat

The Altar, JPCC Marriage & Parenting Seminar 2026, oleh Ps. Jeffrey Rachmat.

Altar: Tempat Tuhan Hadir dan Tempat Penyerahan Diri

Untuk memahami pernikahan dengan benar, kita perlu kembali melihat makna altar.

Altar adalah:

  • Tempat di mana Tuhan hadir.
  • Tempat di mana korban terbaik dipersembahkan.
  • Tempat di mana sesuatu harus mati agar sesuatu yang lebih besar dapat hidup.
  • Tempat total surrender atau penyerahan diri sepenuhnya.
  • Tempat di mana api Tuhan turun.

Dalam Perjanjian Lama, api yang ada di atas mezbah harus terus dijaga agar tidak padam. Demikian pula dalam kehidupan dan pernikahan: api yang Tuhan berikan tidak boleh dibiarkan padam. Api tersebut harus terus dipelihara.


Pernikahan adalah Altar Moment

Pernikahan pada dasarnya adalah sebuah altar moment.

Dua orang datang mendekat kepada hadirat Tuhan, berdiri di depan altar, dan membuat janji di hadapan-Nya. Ini bukan sekadar sebuah acara atau seremoni, tetapi merupakan momen penyerahan diri.

Altar pernikahan juga merupakan tempat kematian—bukan kematian secara fisik, tetapi kematian terhadap ego masing-masing.

Ketika berdiri di depan altar, sesungguhnya kedua orang yang akan menikah sedang datang untuk mempersembahkan diri mereka. Masing-masing harus bersedia “mati” terhadap dirinya sendiri agar sesuatu yang lebih besar, yaitu pernikahan, dapat hidup.

Karena itu, salah satu hal yang paling cepat menghancurkan pernikahan adalah ketika suami dan istri sama-sama tidak mau “mati”.

Ketika keduanya ingin menang, ingin membuktikan bahwa dirinya benar, mempertahankan ego, gengsi, atau terus menghitung siapa yang lebih banyak berkorban, maka yang akhirnya mati justru pernikahannya.

Sebaliknya:

Ketika masing-masing bersedia mati terhadap ego dirinya, pernikahan dapat hidup.

Ego harus mati.
Gengsi harus mati.
Keinginan untuk selalu menang harus mati.
Keinginan untuk membalas harus mati.


Empat Makna Altar dalam Pernikahan

Altar mengingatkan kita pada beberapa hal penting:

1. Tuhan hadir

Pernikahan bukan hanya hubungan antara dua manusia. Tuhan harus menjadi pusat di dalamnya.

2. Surrender

Kita datang bukan untuk mempertahankan keinginan pribadi, tetapi untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dan kepada komitmen pernikahan.

3. Mengingat kembali janji

Ketika keadaan sulit, kita perlu kembali mengingat janji yang pernah dibuat di hadapan Tuhan.

4. Mendapatkan kembali api dari Tuhan

Ketika hubungan mulai terasa dingin, kita perlu kembali kepada Tuhan dan membiarkan Dia menyalakan kembali api yang mungkin mulai redup.

Keep coming back to the altar.


Hormati Pernikahan

Pernikahan harus dihormati dan dijaga kekudusannya.

Jangan mencemarkan tempat tidur pernikahan.

Tempat tidur dalam pernikahan bukan sekadar tempat untuk tidur. Tempat tidur adalah bagian penting dari keintiman suami dan istri—sebuah tempat di mana keduanya saling menyerahkan diri satu sama lain.

Karena itu, tempat tidur perlu dipandang dengan rasa hormat dan kekudusan.

Suami dan istri memiliki tanggung jawab untuk terus menjaga keintiman tersebut.


Pernikahan adalah Aset

Pernikahan perlu dipandang sebagai sebuah aset.

Ketika nilai sebuah aset turun, biasanya kita tidak akan diam saja. Kita akan memikirkan apa yang harus dilakukan agar nilainya kembali naik.

Demikian pula dengan pernikahan.

Jangan membiarkan kualitas pernikahan terus menurun tanpa melakukan apa-apa.

Pernikahan harus terus diusahakan agar nilainya semakin tinggi.

Bahkan, kita seharusnya dapat dengan bangga mengatakan:

“We enjoy our marriage.”

Sebagaimana seseorang senang menunjukkan bisnisnya, rumahnya, atau pencapaiannya, demikian juga seharusnya kita memiliki kebanggan dalam menunjukkan bahwa kita bahagia dengan pernikahan kita.

Pernikahan bukan sesuatu yang sekadar dipertahankan agar tidak hancur. Pernikahan harus dibangun, dirawat, dinikmati, dan dibuat semakin kuat.

Untuk menjaga pernikahan tetap sehat, ada banyak hal yang harus terus dilakukan oleh suami dan istri, tidak bisa dibiarkan berjalan apa adanya saja.


Oneness: Menjadi Satu

1 Korintus 7:3–5 (TSI) mengingatkan tentang tanggung jawab suami dan istri terhadap satu sama lain serta pentingnya tidak saling menjauh, kecuali untuk alasan tertentu dan dengan kesepakatan bersama.

Pernikahan bukan hanya tentang hidup berdampingan, tetapi tentang oneness — menjadi satu.

Oneness is the place where God commands blessing, peace, and power.

Kesatuan adalah sesuatu yang perlu diusahakan.

Untuk menjadi satu, ada harga yang harus dibayar dan ada hal-hal yang harus dikorbankan.

Misalnya:

  • Kesibukan.
  • Ego.
  • Keinginan pribadi.
  • Kenyamanan.
  • Waktu untuk hal-hal lain.

Yang pasti, harga yang harus dibayar untuk memperjuangkan oneness jauh lebih kecil dibandingkan harga yang harus dibayar ketika sebuah pernikahan akhirnya mengalami perpisahan.

Karena itu, jangan menunggu sampai hubungan menjadi jauh untuk mulai memperjuangkan kesatuan.


The Altar, Ps. Jeffrey Rachmat RUIDfad4ec859b4c48dea16aaa7f59ea92a9 scaled e1791272391627 1

Distraction: Musuh dari Connection

Gangguan terhadap keintiman suami dan istri tidak selalu datang dalam bentuk dosa yang jelas.

Sering kali justru hal-hal yang digunakan sebagai gangguan adalah hal-hal yang sebenarnya baik.

Misalnya:

  • Anak.
  • Mertua atau keluarga besar.
  • Karier.
  • Pelayanan.
  • Hobi.
  • Kesibukan sehari-hari.
  • Bahkan hewan peliharaan.

Hal-hal tersebut pada dirinya sendiri bukan sesuatu yang salah. Namun, ketika semuanya mengambil terlalu banyak ruang sehingga suami dan istri tidak lagi memiliki waktu dan perhatian satu sama lain, hubungan dapat perlahan-lahan menjauh.

Selain itu, kelelahan fisik dan mental burnout juga dapat menjadi faktor yang membuat pasangan semakin jauh.

Awalnya mungkin tidak terasa.

Sedikit demi sedikit, waktu bersama berkurang.
Percakapan semakin sedikit.
Keintiman semakin berkurang.
Perhatian mulai terbagi.
Hubungan menjadi semakin “hanyut” menjauh.
Lalu hati menjadi semakin tumpul.

Sampai pada akhirnya, ketika connection dengan pasangan sudah sangat lemah, godaan dapat datang dalam bentuk keintiman dari orang lain—dan di situlah affair dapat mulai terjadi.

Karena itu:

Distraction is the enemy of connection.

Gangguan adalah musuh dari koneksi.


Ketika Kesatuan Dipulihkan, Surga Mengalir

When unity is restored, heaven flows.

Kesatuan antara suami dan istri bukan sesuatu yang terjadi dengan sendirinya.

Untuk menjadi satu, masing-masing harus bersedia “mati” terhadap dirinya sendiri.

Artinya:

  • Tidak selalu membalas ketika disakiti.
  • Tidak terus berusaha memenangkan pertengkaran.
  • Tidak menyimpan luka.
  • Tidak terus menghitung kesalahan pasangan.
  • Tidak mempertahankan ego.
  • Tidak membiarkan kepahitan menjadi bagian dari hubungan.

Menjadi satu berarti memilih hubungan di atas ego pribadi.


Habiskan Waktu Bersama Tanpa Gangguan

Salah satu cara menjaga connection adalah dengan sengaja menyediakan waktu untuk satu sama lain.

Bukan hanya berada di ruangan yang sama, tetapi benar-benar hadir.

Habiskan waktu bersama tanpa gangguan.

Letakkan pekerjaan untuk sementara.
Jauhkan distraksi.
Berbicara.
Mendengarkan.
Menikmati satu sama lain.
Membangun kembali connection.

Pernikahan tidak bisa hanya mengandalkan kenangan tentang masa lalu ketika hubungan masih dekat. Connection harus terus dibangun dan dipelihara.


Kembali kepada Altar

Ketika pernikahan menghadapi masalah, kita perlu kembali kepada altar.

Kembali mengingat:

Tuhan hadir.
Kita pernah berjanji.
Kita memilih untuk menyerahkan diri.
Ego harus mati.
Api harus tetap menyala.
Pernikahan harus terus diperjuangkan.

Karena itu:

Keep coming back to the altar.

Dan pada akhirnya, pusat dari pernikahan bukanlah suami atau istri.

Anchor only in Him.

Jangan menjadikan pasangan sebagai satu-satunya tempat bergantung. Jadikan Tuhan sebagai jangkar utama.

Ketika masing-masing kembali kepada Tuhan, bersedia menyerahkan diri, mematikan ego, dan kembali memperjuangkan oneness, pernikahan memiliki fondasi yang jauh lebih kuat untuk terus hidup dan bertumbuh.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *