7 Alasan Orang Indonesia Sulit Sukses dan Berkembang

Saat menulis artikel ini, saya benar-benar dapat menghubungkan momen-momen yang terjadi di kehidupan sehari-hari dengan poin-poin ini. So true, yet so sad. Semoga Indonesia dan termasuk kita sendiri dapat berubah menjadi lebih baik kedepannya.

7 Alasan Orang Indonesia Sulit Sukses dan Berkembang

7 poin yang menjadi penyebab orang Indonesia tidak sukses atau sulit berkembang:

1. Terlalu Tergantung Pada Faktor Diluar Diri

Kami berterima kasih pasa TUHAN atas hal baik yang terjadi dan menyalahkan kondisi / alam / nasib jika hal yang buruk terjadi alih-alih memberikan credit untuk diri sendiri ketika hal baik terjadi dan bertanggung jawab jika hal buruk terjadi.

TUHAN itu ada dan maha kuasa. Namun bukan berarti kita sebagai manusia hanya berusaha seadanya dan pasrah menyerahkan tanggung jawab kepada TUHAN.

Di lingkungan internasional, dimana orang bekerja dengan perencanaan yang matang, berupaya membuat strategi untuk menyelesaikan persoalan, dan membuat sistem agar pekerjaan berjalan dengan baik membuat orang yang tidak dapat mengantisipasi suatu kejadian dan tidak dapat membuat perencanaan matang terlihat tidak kompeten.

Kami terlihat seperti pasukan pekerja yang menunggu perintah (perlu diberitahu apa yang harus dilakukan) daripada pemikir atau pemimpin yang memiliki inisiatif. Hal ini menyebabkan orang Indonesia dipandang remeh oleh budaya lain.

2. Tidak Kompetitif, Cukup Biasa-Biasa Sajalah (Mediocre)

Orang Indonesia tidak ingin berjuang untuk menjadi yang terbaik, kami cukup menjadi orang biasa-biasa saja. Satu sisi memang baik, kita akan bisa merasa puas dengan apa yang ada, namun di sisi lain kita menjadi tidak kompetitif dan tidak terpacu untuk berkembang.

Kami memiliki budaya sungkan. Jika memungkinkan, kami lebih memilih diam daripada menyuarakan pikiran kami. Kami menyembunyikan potensi kami, tidak ingin menjadi pusat sorotan, tidak ingin menjadi penganggung jawab, karena bisa saja hal ini malah merepotkan atau membuat orang lain iri.

Hal ini terlihat dari ruang kelas, murid-murid cenderung diam saat diundang untuk menjawab pertanyaan. Sikap ini terbawa sampai ke dunia kerja, karyawan yang baik kadang tidak terlalu terlihat, bahkan kadang ketika ingin dipromosikan malah malu-malu dan menolak secara halus.

7 Alasan Orang Indonesia Sulit Sukses dan Berkembang

3. Ikut Arus, Go With The Flow

Antisipasi dan perencanaan bukan suatu budaya bagi orang Indonesia. Ada batasan yang ambigu antara apa yang dapat kita usahakan dengan apa kehendak TUHAN atau takdir alam.

Jika kita melihat pendidikan di Indonesia, sangat sedikit diajarkan cara berpikir terstruktur. Sangat sedikit dilatih fokus mempelajari dan mengumpulkan data untuk membangun argumen. Akibatnya, kita sulit menjawab pertanyaan dengan terstruktur (jawaban yang kuat, jelas, dan lengkap).

Orang Indonesia cenderung berhenti pada lapisan pertama jawaban, ketika ditanya lebih jauh, “Kalau begini bagaimana?”, “Sudah pikirkan hal ini belum?”, seringkali jawabannya hanya diam (tidak tahu). Dari sini terlihat pemikiran yang dangkal dan lemahnya antisipasi.

Sebagai contoh, ketika atasan bertanya, “Bagaimana dengan tugas yang kemarin saya minta Anda lakukan?”,

Alih-alih mendapat jawaban, “Maaf pak, tugas tersebut belum dapat saya selesaikan karena hal-hal ini, saya memiliki beberapa hal yang ini saya tanyakan, setelah itu dengan segera dapat saya selesaikan.”

Banyak yang menjawab tanpa berpikir, “Oh, iya.” Jawaban spontan, menggantung, dengan seribu makna dan satu harapan, tidak ada pertanyaan lebih lanjut dari si bos.

Ketidakmampuan untuk berpikir secara terstruktur, apa yang terjadi, apa yang telah saya lakukan, apa yang harus dilakukan sekarang, dan bagaimana saya menyampaikannya, membuat orang Indonesia bertindak secara tidak terstruktur pula.

Menjawab tanpa fakta, tanpa pemikiran yang terstruktur, dan tanpa argumen yang jelas membuat orang Indonesia dianggap tidak kompeten dan tidak profesional. Orang dari budaya lain dibuat frustasi dengan jawaban-jawaban seperti ini, mereka membutuhkan jawaban yang masuk akal dan lengkap agar mendapatkan rasa terkendali.

4. Mager, Sudah Nyaman

Fenomena “terlalu malas untuk bergerak” tercermin dalam sikap, prilaku, dan cara berpikir orang Indonesia. Kami OK-OK saja selama masih merasa nyaman. Sampai beberapa tahun kemudian kami mulai berpikir, “Mengapa hal-hal tidak berubah?”, “Mengapa saya begini-begini saja?”

Sekali lagi, puas dan bersyukur atas keadaan sekarang adalah suatu hal yang baik, namun jebakan ini sering menghalangi inisiatif kita. Kita tidak berani mencoba pendekatan baru, cara-cara baru dalam menyelesaikan tugas. Padahal orang Indonesia adalah orang-orang yang kreatif.

Kami sangat senang dengan pekerjaan yang itu-itu saja, yang dilakukan dengan cara yang sama berulang-ulang kali, sampai hampir tidak perlu berpikir (autopilot).

Dalam jangka panjang, hal ini akan membuat kita frustasi dan tidak puas, kita akan mulai menyalahkan segala sesuatu selain diri kita sendiri. Pertumbuhan adalah bagian mendasar dari sifat manusia, dan pertumbuhan membuat kita bahagia.

Kecenderungan kita untuk tinggal di zona nyaman akan merampas kebahagiaan kita.

7 Alasan Orang Indonesia Sulit Sukses dan Berkembang

5. Kurang Jiwa Kepemimpinan, Kurang Inisiatif

Kepemimpinan disini dapat diartikan kemampuan untuk mengantisipasi keadaan, mengambil kendali, dan memberikan panduan dan arahan pada orang-orang di sekitar kita.

Kurang kepemimpinan sering kali merupakan dampak dari kurangnya inisiatif. Kepemimpinan sering dikaitkan dengan terobosan, cara berpikir baru, melakukan hal baru, melakukan dengan cara baru, dan pengambilan resiko. Orang Indonesia belum cakap dalam hal-hal ini.

Budaya yang mudah puas tidak mendorong kita untuk berpikir jauh kedepan, apa yang akan terjadi selanjutnya, apa lagi yang bisa dilakukan, cara-cara antisipasi, dan apa yang dapat dipelajari dari suatu peristiwa untuk tumbuh lebih besar kedepannya.

Kemampuan untuk mengambil inisiatif, mengantisipasi masalah, dan mengambil kendali adalah pondasi kepemimpinan.

Kita sering kali menikmati pekerjaan sehari-hari, masalah yang sama timbul berulang kali, diselesaikan dengan cara-cara yang sama. Kita tidak mengambil inisatif untuk berhenti sejenak, melakukan review, dan mengambil langkah konstruktif agar masalah yang sama tidak terulang lagi. Dari sana tercermin tidak adanya kepemimpinan.

Alih alih mengambil inisiatif, orang Indonesia sering menunggu untuk diberitahu apa yang harus dilakukan.

6. Ragu Memberikan Feedback dan Baperan (Take It Personally)

Ketakutan akan konfrontasi menjadi budaya yang dominan di Indonesia.

Banyak keputusan yang diambil karena perasaan tidak enak (sungkan) atau ragu untuk mengatakan atau bertindak dengan cara yang mungkin dapat menyinggung orang lain. Ketika orang merasa sungkan atau ragu biasanya mereka akan memilih untuk diam.

Kita tidak dilatih untuk melihat konfrontasi sebagai cara untuk berkembang, mempertajam, dan memperbaiki sesuatu.

Di tempat kerja, hal seperti ini membuat kita menjadi pemalu. Padahal kemampuan untuk memberikan dan menerima feedback adalah salah satu kunci keberhasilan.

Budaya Indonesia sering kali menganggap feedback sebagai suatu yang personal atau emosional lebih dari sekedar lingkup pekerjaan, alias baper (bawa perasaan). Tidak jarang kita melihat hubungan pertemanan atau persaudaraan yang rusak / renggang karena hal ini.

Kita harus benar-benar memahami inti dari feedback adalah untuk mencapai tujuan bersama, untuk mengenali kelemahan dan kekuatan, untuk mempertajan ide dan gagasan, untuk memperbaiki dan membangun cara kerja yang lebih baik, dari situ kita baru dapat menerima feedback secara lebih rasional ketimbang personal (baperan).

7. Budaya, “Ya Udahlah”

Budaya kita sangat mudah menerima / memaklumi kesalahan, bahkan sebaliknya merasa salah jika tidak dapat menerima kesalahan. Di satu sisi budaya ini menyelamatkan kita dari banyak konflik, tapi di sisi lain membuat kita menjadi orang yang tidak konsisten, ragu-ragu, dan defensif.

Tidak konsisten berarti tidak dapat dipegang apa yang dikatakan dengan apa yang dilakukan. Kita banyak melakukan hal ini karena beranggapan orang lain akan mengerti kenapa kita melakukan itu tanpa perlu dijelaskan.

Keragu-raguan adalah ketidakmampuan untuk mengambil keputusan atau bertahan dalam situasi tanpa arah. Kita beranggapan bahwa hal ini dapat diterima dan berasumsi orang lain akan mengerti dan mau menunggu. Kita tidak melatih diri menjadi tajam dalam mengambil keputusan. Kita malah berharap segala sesuatu dapat beres dengan sendirinya.

Defensif adalah sikap tidak mengakui / mengabaikan kesalahan atau kelemahan kita. Kita berpikir bahwa orang lain pada akhirnya akan mengerti kesalahan yang kita buat, jadi tidak perlu mengakuinya atau membahasnya lebih jauh.

Artikel “7 Alasan Orang Indonesia Tidak Sukses / Berkembang” ini saya tulis berdasarkan file presentasi oleh Cilla Henriette, Strategic Review, The Indonesian Journals of Leadership, Policy, & World Affairs.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *