Langkah Pertama untuk Memulai

Hari ini saya menonton sebuah video di YouTube yang mengingatkan saya bahwa sebuah kebiasaan, tindakan, aktivitas selalu dimulai dari satu langkah kecil, langkah pertama.

Langkah pertama menjadi pintu gerbang dimulainya suatu aktivitas.

Membayangkan lelahnya berolahraga, lamanya waktu yang habis untuk bermeditasi, rumitnya membereskan barang-barang yang berantakan, pusingnya suatu pekerjaan, malasnya bersosialisasi, dan lain-lain akan langsung membuat kita enggan melangkah dan kadang membuat kita mengambil jalan lain yang tidak sebanding, seperti menghabiskan waktu untuk nonton atau scrolling on social media.

Padahal, jika kita memaksakan diri untuk melakukan satu langkah kecil, langkah-langkah berikutnya akan menjadi lebih mudah.

Jika malas berolahraga, paksakan diri untuk memakai sepatu, buka matras, langkah berikutnya akan menjadi lebih mudah. Mulai duduk diam untuk bermeditasi, mulai dari 10 detik saja. Bereskan beberapa barang yang mudah, buang beberapa barang yang tidak perlu. Mulai buka catatan, pegang pena, tulis tanggal. Buka aplikasi yang biasa kita gunakan untuk bekerja. Ketik “Halo, apa kabar?” pada teman-teman kita. Dan selebihnya akan mengalir begitu saja.

Seringkali kita mengugurkan sebuah tindakan saat masih di dalam pikiran.

Langkah pertama, law of inertia
Daun-daun bertahan untuk tidak bergerak, sampai gaya gravitasi memaksa.

Law of Inertia

Langkah pertama selalu menjadi yang paling sulit, sesuai dengan law of inertia oleh Newton.

Hukum 1 Newton: Benda yang awalnya diam akan tetap diam, dan yang awalnya bergerak akan tetap bergerak dengan kelajuan konstan (tetap). Kecenderungan benda untuk “mempertahankan diri” ini disebut dengan inersia.

Inersia atau kelembaman adalah kecenderungan semua benda fisik untuk menolak perubahan terhadap keadaan geraknya.

Kitapun sedikit banyak terpengaruh oleh hukum ini, orang yang malas cenderung akan tetap malas, orang yang produktif tidak tahan jika harus bermalas-malasan.

Perubahan dari gerak (memulai, langkah pertama) yang membutuhkan energi paling besar, namun ketika gerakan sudah terjadi, gerak berikutnya akan jauh lebih mudah dan mengalir.

Sayapun pernah beberapa kali mengalami kejadian serupa, misalnya ketika membuat tulisan ini, malas rasanya, namun saya mulai dengan membuka halaman baru, menulis judul, lalu selebihnya menjadi lebih mudah.

Ketika bekerja pun sering saya alami hal ini, kadang malas rasanya untuk memulai, apalagi jika pekerjaan tersebut rumit dan masih jauh deadlinenya, tapi ketika saya sudah mulai membuka aplikasi yang biasa saya gunakan untuk bekerja maka biasanya selebihnya akan mengalir.

Pun demikian ketika dulu saya menjadi member gym sebelum Corona, sudah lelah bekerja seharian, ingin rasanya bersantai saja di rumah daripada harus keluar lagi, berkendara, kena macet, lalu cape-cape olahraga, pulang malam. Namun saya paksakan saja, ambil langkah perama: ganti baju, hidupkan mesin, jalan. Maka kemalasan itu pun hilang.

Leave a Comment

Your email address will not be published.